CosmoMagazine, Jakarta – Dewan Kesenian Jakarta bersama Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum menginisiasi Lab Perspektif Perempuan yang menghadirkan karya-karya kolaboratif antara perempuan perupa dan masyarakat dari beberapa wilayah di Indonesia.
Pada 2025 ini, Lab Perspektif Perempuan mengangkat tema Kukuh, Bertumbuh, sebagai upaya membaca kembali ketahanan sosial, terutama dari perspektif perempuan, yang sering tak terlihat dalam wacana utama seni rupa.
Pameran ini akan digelar sepanjang 13-20 Juli 2025 setiap pukul 10.00-17.00 WIB di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum. Lab Perspektif Perempuan menghadirkan karya tiga perupa, yakni Alexandra Karyn, Anisa Nabilla Khairo, dan Kae Oktorina.
Pameran ini juga mengajak Ayu Maulani sebagai kurator serta Nirwan Sambudi sebagai asisten kurator. Ketiga perempuan perupa ini melakukan riset selama 3 bulan di beberapa daerah (Kampung Dadap, Banten; Tapang Balu, Sumatera Barat; dan Suku Kajang, Sulawesi Selatan) sebelum menuangkan perspektifnya terhadap isu ketahanan sosial dalam karya.
“Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta memiliki mandat untuk memperkuat ekosistem seni rupa yang inklusif, kritis, dan relevan dengan masyarakat urban. Sejak 2021, program Lab Perspektif Perempuan dikembangkan sebagai kelanjutan dari inisiatif pameran perupa perempuan, dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan partisipatif,” kata Ketua DKJ, Bambang Prihadi.
Melalui Lab Perspektif Perempuan, DKJ sebagai penyelenggara utama ingin membuka ruang di mana pengalaman perempuan tak hanya dihadirkan sebagai subjek, tetapi juga sebagai pembentuk pengetahuan.
Cemara 6 Galeri – Toeti Heraty Museum sendiri adalah institusi seni yang sejak berdiri pada 1993, telah memposisikan dirinya di garis depan gerakan seni dan feminisme di Indonesia.
Kolaborasi dengan Komite Seni Rupa DKJ dalam Lab Perspektif Perempuan memperkuat misi Cemara 6 dalam mendukung representasi perempuan melalui seni visual, sebagaimana sebelumnya diwujudkan dalam pameran Indonesian Women of Spirituality (1999), Indonesian Women Artists (2019, 2022), dan kini 2025.
Sebagai ruang budaya, Cemara 6 menyediakan tidak hanya lokasi pameran, tetapi juga menjadi mitra dalam pendokumentasian, penerbitan katalog digital, serta aktivasi ruang wicara dan interaksi publik. Kolaborasi ini menegaskan posisi galeri sebagai mitra strategis dalam mendorong wacana feminis dalam seni rupa kontemporer.
