Oclo, Brand Fashion Lokal yang Lahir dari Jastip dan Siap Go Nasional

Hernowo Anggie
3 Min Read

CosmoMagazine Dari sekadar bisnis jasa titip (jastip) di media sosial, kini Oclo menjelma menjadi salah satu brand fashion lokal paling diperhitungkan. Dengan tren clean look dan dominasi warna earth tone yang sedang digemari, Oclo terus menarik hati perempuan muda Indonesia.

Kisah Oclo dimulai pada 2016, ketika Yisti Yisnika, masih berstatus mahasiswi, memberanikan diri membuka usaha kecil dengan modal nyaris nol. Hanya berbekal kuota internet dan foto produk, ia menawarkan barang titipan lewat media sosial. Sistemnya sederhana: pelanggan transfer uang, Yisti belikan barang, lalu ia kirimkan kembali. Dari keuntungan kecil itu, ia menabung hingga akhirnya melahirkan brand Oclo.

“Keputusan awal saya adalah berinvestasi di pemasaran, bukan stok produk. Itu yang membuat Oclo cepat dikenal,” ujar Yisti.

Sejak awal, Oclo menyasar perempuan usia 16–40 tahun yang ingin selalu tampil up-to-date dengan gaya simpel dan harga terjangkau. Melalui strategi hashtag, kolaborasi dengan influencer, hingga kampanye di media sosial, Oclo berhasil membangun basis penggemar yang loyal.

Saat e-commerce mulai mendominasi, Oclo langsung masuk dan memanfaatkan fitur-fitur baru seperti live streaming. Fitur ini terbukti efektif karena memungkinkan konsumen melihat langsung detail produk sambil berinteraksi dengan host. “Konsumen jadi lebih percaya diri saat memutuskan membeli,” jelas Yisti.

Kini, komunitas digital Oclo sudah berjumlah ratusan ribu, tersebar di berbagai platform. Engagement yang tinggi ini berdampak langsung pada penjualan, dengan tingkat repeat order yang stabil.

Untuk menjaga relevansinya, Oclo merilis 10 hingga 25 model baru setiap minggu. Mulai blouse, sweater, outer, hingga skirt, semua diproduksi dengan harga bersahabat tanpa mengabaikan kualitas. Riset tren yang intensif membuat koleksi Oclo selalu sesuai dengan selera pasar, terutama tren clean look dan earth tone yang kini jadi favorit.

Momentum Ramadan dan Lebaran selalu menjadi puncak penjualan. Tahun ini, omzet Oclo melonjak hingga 400% dibanding bulan biasa. Tim Oclo menambah stok, memperkuat sistem packing, hingga merekrut tenaga tambahan agar pesanan sampai tepat waktu.

“Kami ingin setiap pelanggan merasa puas dan tetap percaya pada layanan Oclo,” tegas Yisti.

Seiring meningkatnya permintaan, Oclo kini memiliki tiga rumah produksi yang menopang distribusi. Brand ini juga merambah ranah offline dengan membuka gerai pertama di Bandung.

Rencana besar berikutnya: membuka gerai kedua di Bekasi pada 2026. Ekspansi ini sekaligus menandai langkah Oclo untuk menguatkan posisinya sebagai brand fashion lokal yang siap bersaing lebih luas.

Dengan konsistensi, kepekaan membaca tren, dan strategi digital yang matang, Oclo bukan sekadar brand fashion, tapi simbol bagaimana kreativitas anak muda Indonesia bisa tumbuh menjadi kekuatan besar di industri mode.

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar