Cosmo Magazine — Dunia fashion dan gaya hidup global kembali menyoroti isu perlindungan merek setelah Arc’teryx
Equipment, brand premium asal Kanada di bawah naungan Amer Sports Canada Inc., menyatakan kekecewaan mendalam atas putusan Pengadilan Niaga Jakarta.
Putusan yang dijatuhkan pada 30 Desember 2025 tersebut menolak gugatan pembatalan merek terhadap perusahaan berbasis di Tiongkok yang mendaftarkan merek Arc’teryx di Indonesia tanpa persetujuan dari pemilik aslinya.
Bagi para pecinta fashion fungsional, outdoor lifestyle, dan brand heritage, kabar ini bukan sekadar persoalan hukum. Ini menyentuh hal yang lebih besar, yakni identitas merek, kepercayaan konsumen, dan kepastian dalam dunia industri kreatif global.
Ketika Identitas Merek Dipertaruhkan
Arc’teryx dikenal sebagai salah satu ikon dalam dunia pakaian dan perlengkapan outdoor premium.
Sejak berdiri, brand ini identik dengan desain presisi, teknologi material mutakhir, dan estetika minimalis yang kini juga merambah dunia fashion urban.
Namun dalam kasus ini, pengadilan menolak gugatan pembatalan merek terhadap pihak lain yang mendaftarkan nama Arc’teryx di Indonesia.
“Kami sangat kecewa atas putusan tersebut. Pengadilan tidak melakukan pemeriksaan atas persamaan kedua merek yang disengketakan dan tidak mempertimbangkan adanya itikad tidak baik dalam pendaftaran merek tersebut,” ungkap Cameron Clark, Head of Legal
Arc’teryx.Menurut pihak Arc’teryx, dua aspek itu (kemiripan merek dan niat pendaftaran) biasanya menjadi elemen penting dalam perkara pembatalan merek.
Terlebih, Arc’teryx telah mendaftarkan mereknya di banyak negara sejak tahun 1992 dan membangun reputasi global selama puluhan tahun.
Dampaknya bagi Konsumen dan Industri Fashion
Bagi konsumen modern, merek bukan sekadar label. Ia adalah simbol kualitas, nilai, dan asal-usul. Arc’teryx menegaskan bahwa secara global, termasuk di Indonesia, brand ini telah lama dikenal sebagai merek asal Kanada.
Putusan ini, menurut Arc’teryx, berpotensi menimbulkan kebingungan publik,
apakah produk yang beredar benar-benar resmi, atau hanya menggunakan nama yang sama?
Lebih jauh lagi, situasi ini juga bisa menjadi sinyal peringatan bagi perusahaan internasional yang tengah mempertimbangkan investasi dan ekspansi bisnis di Indonesia, terutama terkait kepastian hukum dalam perlindungan merek.
Komitmen Arc’teryx, Melindungi Konsumen dan Brand
Meski kecewa, Arc’teryx tidak tinggal diam. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus melindungi integritas merek secara global dengan menempuh upaya hukum melalui pengajuan kasasi di Indonesia.
Diungkap Arc’teryx, langkah ini bukan hanya tentang kepemilikan nama, tetapi juga tentang melindungi konsumen dari kebingungan, menjaga standar kualitas, serta memastikan hak merek tidak diberikan kepada pihak yang bukan pemilik sah.
