iPhone Air Lesu di Pasar, Produsen Asia Hentikan Ambisi Ponsel Ultra-Tipis

Sejumlah produsen besar di kawasan Asia menunda proyek mereka setelah kinerja iPhone Air, perangkat tipis terbaru Apple, menunjukkan hasil yang jauh dari proyeksi awal.

CosmoMagz
3 Min Read

Cosmo Magazine — Tren ponsel ultra-tipis yang sempat ramai dibicarakan di Asia kini mengalami perlambatan signifikan. Sejumlah produsen besar di kawasan tersebut memilih menunda proyek mereka setelah kinerja iPhone Air, perangkat tipis terbaru Apple, menunjukkan hasil yang jauh dari proyeksi awal.

Sejak diperkenalkan pada September, model tersebut belum mampu memberikan angka penjualan yang memuaskan.

Laporan dari MacRumors menyebutkan bahwa Apple melakukan penyesuaian besar pada rantai produksinya.

Tercatatm Foxconn menghentikan seluruh lini perakitan iPhone Air, sementara Luxshare sudah tidak lagi memproduksi perangkat itu sejak akhir Oktober. Pengurangan aktivitas produksi tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa minat pasar terhadap model ultra-tipis belum sekuat prediksi perusahaan.

Dampaknya meluas ke kompetitor regional. Produsen Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo, yang sebelumnya menyiapkan perangkat ultra-tipis mereka masing-masing, dikabarkan memutuskan untuk menunda atau menghentikan pengembangan. Bahkan kapasitas produksi eSIM yang sudah disiapkan khusus untuk segmen ini dialihkan ke kategori perangkat lain yang dinilai lebih menjanjikan.

Rencana ambisius beberapa merek pun ikut terganggu. Xiaomi, misalnya, disebut tengah menyiapkan model ultra-tipis yang digadang-gadang sebagai pesaing langsung iPhone Air. Di sisi lain, Vivo sempat menargetkan desain ramping untuk seri menengahnya. Namun, dua proyek ini dilaporkan tidak lagi berlanjut, meski belum ada konfirmasi resmi dari masing-masing perusahaan.

Salah satu tantangan terbesar iPhone Air terletak pada kompromi desainnya. Demi mencapai ketebalan sekitar 5,6 mm, Apple harus mengorbankan kapasitas baterai dan konfigurasi kamera. Dengan harga mulai 999 dolar AS (sekitar Rp16,6 juta), perangkat ini dianggap kurang kompetitif jika dibandingkan dengan iPhone 17 Pro yang hanya sedikit lebih mahal namun menawarkan kamera tiga lensa dan daya tahan baterai lebih baik.

Situasi tersebut disebut-sebut membuat Apple mempertimbangkan ulang kelanjutan seri iPhone Air. Generasi berikutnya kemungkinan akan mengalami perubahan desain besar, termasuk penambahan kamera dan peningkatan kapasitas baterai.

Fenomena yang dialami Apple tidak berdiri sendiri. Samsung juga menghadapi hasil serupa melalui Galaxy S25 Edge, perangkat ultra-tipis versi mereka. Penjualan yang tidak memenuhi target membuat perusahaan Korea Selatan tersebut dikabarkan menghentikan produksi S25 Edge dan membatalkan penerusnya, Galaxy S26 Edge.

Melihat kondisi ini, produsen di Asia tampak mulai mengevaluasi ulang apakah faktor ketipisan masih menjadi prioritas konsumen, karena pasar menunjukkan kecenderungan memilih perangkat dengan daya tahan baterai dan kemampuan kamera yang lebih mumpuni dibanding sekadar bentuk fisik yang sangat tipis.

Share This Article
Tidak ada komentar