Margarin Jadi Skincare? Glowing atau Sekadar Berminyak

Ingat, wajah bukan adonan kue. Kalau ingin glowing, carilah kulit yang sehat, bukan sekadar mengilap.

Hernowo Anggie
3 Min Read

Cosmo Magazine – Di era media sosial, batas antara beauty hack dan beauty hoax makin tipis. Terbaru, jagat Instagram dan TikTok dihebohkan oleh video seorang perempuan yang mengaplikasikan margarin langsung ke wajah, lalu menutupinya dengan Kelly Pearl Cream. Klaimnya? Kulit tampak glowing alami.

Video tersebut dengan cepat viral, ditonton ratusan ribu kali, memancing beragam reaksi, dari rasa penasaran hingga komentar sarkastik. Tapi satu pertanyaan penting muncul: apakah glowing yang dimaksud benar-benar sehat untuk kulit?

Ketika “Glowing” Disalahartikan

Fenomena ini menyoroti satu masalah klasik dalam dunia kecantikan, glowing sering disamakan dengan berminyak. Padahal, kulit sehat tidak selalu mengilap, dan kulit mengilap belum tentu sehat.

Margarin, produk olahan berbahan dasar minyak nabati terhidrogenasi, memang mampu memberi efek kilau instan. Namun, efek tersebut lebih menyerupai lapisan minyak di permukaan kulit, bukan hasil dari hidrasi atau perbaikan skin barrier.

Singkatnya, kelihatan kinclong, tapi bukan berarti kulitmu bahagia.

Penjelasan Medis: Kenapa Margarin Bukan Skincare

Menanggapi tren ini, dr. Ayman Alatas, Sp.MK, microbiologist klinis sekaligus pakar skin & gut microbiome, menegaskan bahwa penggunaan margarin sebagai skincare sangat tidak disarankan.

Margarin tidak diformulasikan untuk penggunaan topikal. Teksturnya yang sangat berminyak bersifat komedogenik, artinya berpotensi menyumbat pori-pori. Dalam jangka pendek mungkin terlihat “glowing”, namun dalam jangka panjang bisa memicu jerawat, iritasi, reaksi alergi, hingga ketidakseimbangan mikrobioma kulit

Belum lagi kandungan tambahan seperti garam, perisa, dan pengawet makanan yang sama sekali tidak dirancang untuk kulit wajah—terutama bagi pemilik kulit sensitif atau berjerawat.

“Produk perawatan kulit seharusnya melalui uji dermatologis dan diformulasikan khusus agar aman digunakan secara topikal,” jelas dr. Ayman.

Viral ≠ Valid

Tren skincare ekstrem bukan hal baru. Dari penggunaan lemon, pasta gigi, hingga bahan dapur lain, semua pernah mengalami masa kejayaannya di media sosial. Faktor utamanya hampir selalu sama, murah, mudah didapat, dan terlihat ‘berhasil’ secara instan di kamera.

Namun, kamera tidak bisa merekam apa yang terjadi di dalam pori-pori.

Efek kilap sesaat sering kali disalahartikan sebagai hasil skincare yang sukses, padahal kulit justru sedang berada dalam kondisi stres. Masalah baru biasanya muncul beberapa hari atau minggu kemudian, saat video viralnya sudah lewat, tapi jerawatnya baru datang.

Jadi, Apa Definisi Glowing yang Sehat?

Kulit glowing yang sesungguhnya adalah terhidrasi dengan baik, teksturnya halus, warna kulit merata, serta tidak terasa perih, gatal, atau “berat”

Semua itu tidak bisa dicapai dari margarin. Tapi bisa dicapai dari rangkaian skincare yang tepat, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing.

Jadi, eksperimen boleh, asal tidak mengorbankan kesehatan kulit. Tidak semua yang viral layak ditiru, dan tidak semua yang terlihat “alami” otomatis aman.

Ingat, wajah bukan adonan kue. Kalau ingin glowing, carilah kulit yang sehat, bukan sekadar mengilap.

Share This Article
Tidak ada komentar