Cosmo Magazine – Ambisi Korea Selatan tak lagi sekadar soal K-Pop dan drama yang membuat kita jatuh hati. Negeri Ginseng itu kini memasang target besar, meraih 30 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2028. Dan kali ini, yang dijual bukan hanya destinasi, melainkan pengalaman premium, termasuk transformasi diri lewat wisata kecantikan.
Organisasi Pariwisata Korea (KTO) mengumumkan percepatan target tersebut sebagai langkah strategis untuk mengejar Jepang, yang pada 2025 mencatat rekor 42,7 juta wisatawan asing. Tahun lalu, Korea Selatan berhasil membukukan 18,9 juta kunjungan, naik signifikan dibanding periode sebelumnya dan bahkan melampaui angka pra-pandemi.
Namun bagi KTO, angka bukan satu-satunya fokus. “Volume penting, tetapi lama tinggal dan jumlah belanja wisatawan menentukan keberhasilan sesungguhnya,” tegas Presiden KTO Park Sung Hyeuck. Artinya, Korea ingin menarik wisatawan yang datang lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan mencari pengalaman eksklusif.
Beauty Tourism, Dari Tren Jadi Strategi Nasional
Salah satu sektor yang digencarkan adalah wisata medis dan kecantikan. Korea Selatan memang sudah lama dikenal sebagai kiblat operasi plastik, perawatan kulit, hingga inovasi K-beauty yang mendunia. Kini, sektor tersebut dikemas lebih strategis sebagai bagian dari pariwisata premium.
Bagi banyak perempuan global, perjalanan ke Seoul bukan lagi sekadar berburu skincare di Myeongdong. Ini tentang konsultasi dermatologi kelas dunia, prosedur estetik berteknologi tinggi, hingga menikmati recovery time di hotel berbintang dengan fasilitas terbaik. Korea menjual pengalaman yang personal, aspiratif, dan transformative.
Strategi Berbeda untuk Pasar Berbeda
KTO juga menyusun pendekatan spesifik untuk tiap kawasan. Untuk pasar inti seperti China, Jepang, dan Taiwan, fokus diarahkan pada kunjungan ulang dan eksplorasi kota-kota sekunder. Sementara Asia Tenggara dan Timur Tengah akan ditargetkan lewat daya tarik budaya Korea, dari K-Pop, K-Drama, hingga K-Beauty.
Di pasar Amerika Utara dan Eropa, Korea memperluas titik kontak digital dan offline guna menjangkau generasi traveler baru yang mencari pengalaman autentik namun tetap modern.
AI dan Pariwisata Masa Depan
Tak kalah menarik, Korea juga akan mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam sistem pariwisatanya. Seluruh situs informasi akan disatukan dalam platform “Visit Korea”, lengkap dengan asisten perjalanan berbasis AI multibahasa. Ditambah kartu transportasi dan wisata terintegrasi, pengalaman berlibur akan dibuat semakin seamless dan sophisticated.
Langkah ini menunjukkan bahwa Korea tak hanya menjual budaya pop, tetapi juga inovasi dan efisiensi, dua hal yang sangat relevan bagi traveler urban masa kini.
Pariwisata sebagai Pilar Ekspor
Lebih ambisius lagi, pemerintah Korea menargetkan pariwisata masuk tiga besar industri ekspor nasional, sejajar dengan otomotif dan semikonduktor. Dengan kemitraan global bersama jaringan hotel internasional dan agen perjalanan besar, langkah ini bukan sekadar wacana.
Di tengah persaingan regional yang ketat, terutama dengan Jepang, Korea memilih jalur berbeda, memperkuat identitas sebagai destinasi premium yang menawarkan pengalaman personal dan bernilai tinggi.
Karena pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi. Tapi tentang siapa kita setelah kembali. Dan Korea Selatan tampaknya ingin menjadi tempat di mana transformasi itu dimulai.
