Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5
Dana Darurat

Mengejutkan, 92 Persen Anak Muda Indonesia Belum Pikirkan Tentang Dana Darurat

Hernowo Anggie
4 Min Read
Dana Darurat

CosmoMagazine – Kebiasaan menabung tampaknya semakin melekat dalam kehidupan anak muda Indonesia. Namun, rajin menyisihkan uang ternyata belum otomatis membuat seseorang memiliki kondisi finansial yang benar-benar siap menghadapi masa depan.

Temuan tersebut tergambar dalam Financial Fitness Index (FFI) 2026, studi yang dilakukan OCBC bersama NielsenIQ (NIQ) untuk melihat kesehatan finansial, perilaku, prioritas, serta kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi kondisi ekonomi dan kebutuhan hidup yang terus berubah.

Salah satu temuan menariknya, sebanyak 92 persen anak muda Indonesia mengaku rutin menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung. Angka tersebut meningkat 3 persen dibandingkan 2025 yang berada di level 89 persen.

Di sisi lain, skor financial fitness anak muda justru mengalami penurunan. Pada 2026, skornya tercatat 39,64, turun dari 40,60 pada tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan finansial masyarakat tidak bisa hanya dilihat dari seberapa rutin mereka menabung. Ada aspek lain yang menentukan apakah seseorang benar-benar memiliki fondasi keuangan yang kuat.

Menurut Director Strategic Analytics & Insight NielsenIQ Indonesia, Inggit Primadevi, penurunan skor FFI terjadi ketika kebutuhan dasar seperti pengeluaran sehari-hari dan pembayaran utang masih menjadi prioritas. Meski demikian, terdapat perkembangan positif dalam kebiasaan menabung dan persiapan masa depan.

“Yang menarik, kita juga melihat semakin banyak masyarakat yang mulai membangun kebiasaan menabung dan mempersiapkan masa depan. Ini menunjukkan adanya awareness yang berkembang dan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan finansial ke depannya,” ujar Inggit Primadevi di acara talkshow Financial Fitness Index (FFI) 2026.

Persoalan lain terlihat dari adanya jarak antara kesadaran finansial dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 55 persen masyarakat merasa perencanaan keuangan yang mereka lakukan saat ini dapat membawa kesuksesan finansial di masa depan. Namun, 80 persen di antaranya belum melakukan pencatatan keuangan, sedangkan baru 27 persen yang telah memiliki dana darurat.

Temuan tersebut menjadi penting karena dana darurat dapat menjadi salah satu fondasi sebelum seseorang melangkah ke tahap pengembangan aset. FFI 2026 menunjukkan, masyarakat yang sudah memiliki dana darurat cenderung lebih banyak memiliki produk investasi kompleks seperti saham, deposito, reksa dana, dan forex.

Sebanyak 9 persen masyarakat yang memiliki dana darurat tercatat telah memiliki produk investasi yang lebih kompleks, dibandingkan 4 persen dari kelompok yang belum mempunyai dana darurat. Sementara itu, 14 persen pemilik dana darurat mempertimbangkan memiliki investasi kompleks, sedangkan pada kelompok tanpa dana darurat hanya 2 persen.

Artinya, membangun kesehatan finansial tidak selalu berarti harus mengorbankan gaya hidup. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana pengeluaran, tabungan, dana darurat, dan investasi dapat berjalan sesuai kemampuan serta tujuan masing-masing.

Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana, mengatakan kesehatan finansial bukan semata-mata mengenai jumlah uang yang dimiliki seseorang.

“Sehat secara finansial bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak uang, tetapi tentang memiliki fondasi dan perencanaan yang membuat kita mampu menghadapi ketidakpastian, sekaligus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujar Lauda.

Temuan FFI 2026 pun menunjukkan satu hal penting: menabung adalah langkah awal, bukan garis akhir. Kebiasaan tersebut perlu dilanjutkan dengan pencatatan keuangan, membangun dana darurat, hingga mengembangkan aset secara terencana agar gaya hidup hari ini tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan finansial di masa depan

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar