CosmoMagazine – Dalam industri estetika, keputusan peluncuran produk dan protokol sering kali didominasi oleh strategi pemasaran semata.
Namun, PT Redo Marketing Indonesia mengambil Langkah berani yang berbeda dari tren industri: menyerahkan kepada para pakar medis sepenuhnya melalui pembentukan Celluma Indonesia Advisory Board (CICAB).
Bertepatan dengan Aruna International Summit 2026 di Raffles Hotel Jakarta, pembentukan CICAB ini diumumkan secara resmi bersamaan dengan peluncuran dua teknologi photobiomodulation (terapi cahaya) terbaru: Celluma Elite Series 2 untuk kelas profesional dan Celluma Nova untuk penggunaan personal.
Advisory Board ini beranggotakan tiga dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.D.V.E) senior, para board member CICAB memiliki peran terhadap bagaimana teknologi Celluma dikomunikasikan kepada publik, dilatih dan diterapkan di Indonesia.
Masyarakat umum maupun praktisi estetika yang ingin memahami lebih dalam mengenai sains di balik Celluma, kini memiliki tiga rujukan pakar utama di Indonesia. Ketiga board member tersebut adalah:
- M. Akbar Wedyadhana Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD. : Dokter spesialis Dermatologi, Venereologi & Estetika yang menjabat sebagai Direktur Medis Senopati Skin Center, Jakarta. Beliau juga menjabat sebagai Ketua PERDOSKI Cabang Jakarta periode 2024–2029 dan Wakil Ketua Kelompok Studi Dermatologi Laser Indonesia (KSDLI) Periode 2022-sekarang.
- Ruri Diah Pamela Sp.D.V.E., FINSDV., FAADV. : Dokter spesialis Dermatologi, Venereologi & Estetika di RS Pusat Pertahanan Nasional (RSPPN) Soedirman dan Filmore Medical Center. Beliau memiliki keahlian di bidang laser dermatologi, dermatologi kosmetik, dan regenerative medicine.
- Feilicia Henrica Sp.D.V.E, FINSDV. : Dokter spesialis Dermatologi, Venereologi & Estetika dengan pengalaman praktik lebih dari 25 tahun di bidang dermatologi estetika dan anti-aging, Founder dari Klinik Utama SkinNaire, Bandung.
“Sebagai profesional, kami bertanggung jawab penuh untuk memberikan rekomendasi tindakan medis berbasis bukti ilmiah, bukan berdasarkan faktor komersial,” ujar dr. M. Akbar Wedyadhana.
“Sebagai advisory board, kami memiliki otoritas untuk mengatakan ‘tidak’ jika ada protokol pelatihan yang keluar dari standar medis, atau jika ada strategi komunikasi pemasaran yang overclaim. Tata Kelola seperti ini sangat langka dan patut diapresiasi di industri estetika Indonesia,” sambung dia.
“Kami tidak berhenti pada pertanyaan what the device does on the skin. Lebih jauh, kami ingin memahami what happens inside the cell, bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan cellular chromophores, dan bagaimana interaksi tersebut diterjemahkan menjadi respons biologis,” ujar dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV, anggota Celluma Indonesia Advisory Board.
Menurut dia, inilah titik dimana science, technology, dan clinical practice bertemu. Sebuah jembatan yang membawa Photobiomodulation (PBM) dari sekadar tren, menjadi terapi yang dipahami mekanismenya, didukung oleh scientific evidence, dan diterapkan secara profesional dalam praktik klinis.
“Ada pergeseran besar yang sedang terjadi dalam cara kita memahami kulit sehat. Selama bertahun-tahun, perawatan kulit berfokus pada apa yang terlihat di permukaan. Kini, sains membawa kita jauh lebih dalam: ke tingkat sel, tempat proses penuaan dan peremajaan kulit sesungguhnya bermula,” tambah dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, Kepala Departemen Dermatologi RSPNN dan anggota Celluma Indonesia Advisory Board.
