CosmoMagazine – Layar bioskop Indonesia kembali diwarnai dengan karya besutan sutradara Indra Gunawan yang berjudul “Air Mata Mualaf”. Sebuah film yang berpusat pada tema keluarga, perbedaan keyakinan, keberanian dalam menentukan pilihan hidup, serta hidayah yang tak terduga.
Film “Air Mata Mualaf” dengan apik mengeksplorasi tekanan batin, ketakutan akan kehilangan, amarah yang membuncah, hingga keheningan yang menyelimuti setelah sebuah pilihan besar diambil. Semua dieksekusi dengan pendekatan emosional yang sangat intim dan menyentuh.
Meski begitu, Indra Gunawan menegaskan bahwa visi di balik “Air Mata Mualaf” bukanlah untuk menggurui penonton. Lebih dari itu, film ini hadir untuk memotret realitas manusia saat dihadapkan pada persimpangan krusial dalam hidup.
“Saya membuat film ini bukan untuk menunjukkan siapa yang benar atau salah. Fokus kami adalah menghadirkan manusia apa adanya, dengan segala ketakutan, cinta, dan keberanian yang mereka miliki. Setiap orang pernah berada di titik ketika ia harus memilih jalannya sendiri, dan proses itulah yang kami ceritakan,” ujar Indra Gunawan.
Dewi Amanda selaku produser mengungkapkan bahwa keberanian timnya mengangkat tema yang dianggap sensitif ini berangkat dari kedekatan dengan realitas sehari-hari yang dialami masyarakat. Namun film ini menawarkan sudut pandang lain yang lebih humanis.
“Perbedaan dalam keluarga sering dipandang sebagai ancaman. Tapi melalui film ini kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bisa menjadi ruang belajar. Hidayah atau jalan pilihan tidak datang karena paksaan manusia, ia datang dari Tuhan. Film ini mengajak penonton melihat itu dengan hati yang lebih lembut,” jelas Dewi.
Dari sisi pemeranan, aktris Acha Septriasa yang dipercaya memerankan tokoh Anggie, mengungkapkan bahwa perannya kali ini memberinya perspektif baru tentang keteguhan hati seorang perempuan dalam menghadapi cobaan hidup.
“Anggie adalah sosok yang memilih tanpa membenci dan melangkah tanpa marah. Dia tahu apa yang ia rasakan sebagai kebenaran, tetapi ia juga mencintai keluarganya. Peran ini mengingatkan saya memilih jalan sendiri bukan tindakan meninggalkan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri,” kata Acha.
Sementara itu, Rizky Hanggono yang memerankan karakter Willy, bercerita bahwa beberapa adegan di film ini menggugah pengalaman pribadinya. Ia mengatakan bahwa konflik keluarga tidak selalu lahir dari kebencian, melainkan dari rasa takut kehilangan orang-orang yang dicintai.
“Ada adegan yang membuat saya teringat pada adik perempuan saya. Konflik keluarga sering kali lahir bukan dari kebencian, tetapi dari rasa takut kehilangan. Film ini mengingatkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti mengarahkan hidupnya,” tutur Rizky.
Film “Air Mata Mualaf” juga menjadi kolaborasi lintas budaya yang melibatkan industri film dari Indonesia, Malaysia, dan Australia. Selain Acha Septriasa dan Rizky Hanggono, film ini turut dibintangi oleh aktor-aktor internasional seperti Syamim Freida, Hazman Al Idrus, dan Matthew Williams.
Film “Air Mata Mualaf” direncanakan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 November 2025. Film ini juga dijadwalkan tayang negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah pada awal Desember
