Jepang 2026: Tren Pariwisata, Rekor Kunjungan, dan Kebijakan Baru

Jika Jepang ada dalam daftar perjalananmu, pastikan untuk merencanakan kunjungan dengan bijak dan selalu menghormati budaya lokal!

Hernowo Anggie
4 Min Read

Cosmo Magazine – Jepang terus menjadi destinasi wisata impian bagi para pelancong dari seluruh dunia. Pada 2025, negara ini diperkirakan akan memecahkan rekor kunjungan turis asing dengan total mencapai 42,7 juta orang. Angka ini menandakan kebangkitan sektor pariwisata Jepang pasca-pandemi, dengan pengeluaran turis yang juga meroket hingga 9,5 triliun yen (sekitar Rp1.020 triliun), didorong oleh pelemahan yen dan peningkatan penerbangan internasional.

Namun, meski mencatatkan angka impresif, ada tantangan baru yang dihadapi Jepang dalam hal pariwisata. Penurunan signifikan datang dari wisatawan China, yang jumlahnya terjun bebas hingga 45% pada Desember 2024.

Boikot yang diserukan pemerintah China terhadap Jepang sebagai bentuk protes atas ketegangan politik berdampak langsung pada jumlah pengunjung dari negeri Tirai Bambu.

Meskipun tidak ada larangan eksplisit, seruan untuk menghindari perjalanan ke Jepang menyebabkan penurunan angka yang cukup signifikan, terutama mengingat China selama ini menyumbang sekitar sepertiga dari total wisatawan asing yang datang ke Jepang.

Tren Wisatawan dan Prediksi 2026

Di tengah lonjakan kunjungan pada 2025, banyak analis memperkirakan penurunan jumlah wisatawan asing pada 2026. Proyeksi dari agen perjalanan JTB memperkirakan kunjungan turis asing pada tahun depan hanya akan mencapai 41,4 juta orang, turun sekitar 2,8% dari tahun sebelumnya. Ini sebagian besar dipengaruhi oleh boikot yang masih berlanjut, terutama dari China.

Menteri Pariwisata Jepang, Yasushi Kaneko, menyatakan bahwa meskipun Jepang telah berhasil menarik wisatawan dari Australia, Eropa, dan Amerika, boikot China tetap memberi dampak besar. Namun, Jepang tetap optimis untuk terus mempromosikan pariwisata mereka dengan strategi yang lebih diversifikasi dan mengincar pasar baru di luar Asia.

Pajak Keberangkatan, Solusi atau Tantangan?

Sementara itu, untuk mengatasi overtourism dan tekanan pada infrastruktur yang semakin meningkat, pemerintah Jepang merencanakan kenaikan pajak keberangkatan bagi wisatawan yang meninggalkan negara tersebut. Mulai 2026, setiap pelancong yang terbang keluar Jepang akan dikenakan pajak sebesar 3.000 yen (sekitar Rp330 ribu), lebih tinggi dari pajak sebelumnya yang hanya 1.000 yen. Bahkan, untuk pelancong kelas bisnis atau lebih tinggi, ada kemungkinan tarif pajak akan mencapai 5.000 yen (sekitar Rp530 ribu).

Tujuan dari pajak baru ini adalah untuk mengurangi dampak kepadatan wisatawan di destinasi populer, serta membantu membiayai proyek-proyek yang mendukung pariwisata berkelanjutan, seperti pembangunan infrastruktur yang lebih baik, kampanye etika wisata, dan pengelolaan kawasan wisata. Pemerintah Jepang berharap pajak ini dapat digunakan untuk melestarikan budaya dan alam, sambil tetap menjaga daya tarik negara ini sebagai tujuan wisata global.

Dengan proyeksi yang beragam untuk tahun 2026, Jepang berada di persimpangan antara melanjutkan tren pertumbuhan pariwisata dan mengelola dampak dari boikot politik serta kepadatan pengunjung. Kebijakan pajak keberangkatan mungkin menjadi langkah kontroversial, tetapi ini adalah bagian dari upaya Jepang untuk mengatur pariwisata yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif dari overtourism.

Namun, meskipun ada tantangan, Jepang tetap menjadi destinasi impian dengan pesonanya yang tak lekang oleh waktu, dan dengan berbagai inovasi dalam pariwisata, negara ini terus menarik hati para pelancong dunia, baik yang baru maupun yang kembali. Jadi, jika Jepang ada dalam daftar perjalananmu, pastikan untuk merencanakan kunjungan dengan bijak dan selalu menghormati budaya lokal!

Share This Article
Tidak ada komentar