Cosmo Magazine – Jepang memang selalu sukses mencuri hati wisatawan, dari jalanan Kyoto yang tenang sampai Tokyo yang hiper-modern. Tapi pesonanya yang tak pernah redup juga membawa masalah baru,yaitu overtourism.
Untuk mengatasinya, pemerintah Jepang kini tengah mempertimbangkan langkah yang cukup berani dengan menaikkan pajak keberangkatan hingga 3.000 yen atau sekitar Rp325 ribu per orang.
Rencana ini didukung oleh Partai Demokrat Liberal (LDP), dan bukan hanya ditujukan pada turis asing, tetapi juga warga Jepang sendiri. Pajak ini nantinya langsung masuk ke harga tiket pesawat maupun kapal laut, sehingga traveler tidak perlu membayar secara terpisah.
Pemerintah Jepang melihat kenaikan pajak ini sebagai cara untuk mendanai berbagai upaya pengurangan kepadatan wisata, seperti sistem parkir berbasis AI dan penataan ulang area-area turistik yang kian membludak. Tahun lalu saja, pajak keberangkatan menghasilkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, lebih dari 52 miliar yen.
Di sisi lain, Jepang juga sempat mengusulkan kenaikan biaya visa agar lebih sebanding dengan tarif yang diterapkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Namun, Menteri Luar Negeri Jepang menegaskan bahwa kenaikan visa ini tidak secara langsung ditujukan untuk membatasi turis asing.
Faktanya, popularitas Jepang justru terus meroket. Dari Januari–September 2025, jumlah wisatawan mancanegara mencapai 31,6 juta, laju tercepat yang pernah tercatat. Mayoritas wisatawan pun menghabiskan belanja yang luar biasa besar, mencapai 6,9 triliun yen hanya dalam sembilan bulan.
Namun, tingginya angka kunjungan membawa dampak signifikan. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 30% turis asing merasakan dampak overtourism, terutama kepadatan ekstrem di destinasi populer.
Banyak juga yang mengeluhkan perilaku wisatawan lain, mulai dari membuang sampah sembarangan hingga masuk area terlarang.
Menariknya, mayoritas wisatawan ternyata setuju jika Jepang menetapkan tarif lebih tinggi di lokasi wisata, asalkan itu membantu menjaga keindahan tempat-tempat tersebut tetap lestari.
Selain itu, ada minat besar untuk mengeksplorasi wilayah pedesaan Jepang, meski realitanya, hanya sebagian kecil yang benar-benar pergi ke sana.
Dengan rencana kenaikan pajak ini, Jepang berharap dapat menciptakan alur wisata yang lebih seimbang, antara lain destinasi lebih tertata, pengalaman wisatawan lebih nyaman, dan kawasan-kawasan baru di luar kota besar bisa ikut berkembang.
Jadi kalau kamu berencana terbang ke Negeri Sakura dalam waktu dekat, ada baiknya mulai siap-siap dengan tambahan biaya keberangkatan ini.
Demi perjalanan yang lebih nyaman dan destinasi yang lebih terjaga, sedikit tambahan rupiah mungkin bukan harga yang terlalu mahal.
