Cosmo Magazine – Di antara denting harpa, kamera film, dan ruang sunyi penyembuhan, Maya Hasan menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran.
Tahun 2025 menjadi fase syukur, sementara 2026 ia sambut dengan harapan yang matang, bukan sekadar ambisi, melainkan kelanjutan dari mimpi yang telah ia rawat puluhan tahun.
Perempuan bernama lengkap Haris Maya Christina Hasan ini hidup di tiga dunia sekaligus: sebagai harpist, aktris, dan music healer. Tiga peran yang ia jalani beriringan, sambil tetap memegang peran terpenting dalam hidupnya: seorang single mother dari tiga anak.
Ketika ditanya rahasia menjaga kecantikan dan kebugaran tubuh, Maya hanya tersenyum. Tak ada formula rumit.
“Selalu optimis dan berpikir positif,” ujarnya ringan.

Menurutnya, semua dijalani bertahap dan seimbang. Tak ada jalan pintas. Energi yang baik, pikiran, emosi, dan keyakinan, adalah fondasi utama yang membuat tubuh dan jiwa tetap selaras.
Dari Teater ke Harpa, dari Film ke Healing
Perjalanan Maya dimulai sejak awal 1990-an melalui dunia teater, bergabung dengan Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI).
Ia bahkan sempat menjadi sutradara dan penulis naskah di berbagai sanggar. Film layar lebarnya, Koper (2006), menjadi penanda karier aktingnya, meski setelah itu ia vakum selama 14 tahun dari dunia film.
Sementara itu, musik telah lebih dulu mengalir dalam hidupnya. Pada 1993, sepulang studi dari Willamette University, Oregon, Amerika Serikat, Maya resmi menapaki karier sebagai harpist profesional. Ia tampil bersama berbagai orkestra dan konduktor ternama di Indonesia.
Tak berhenti di situ, selama lebih dari dua dekade Maya mendalami music for healing. Tahun 2013, ia memperoleh lisensi profesional sebagai healer melalui musik.
Pengalaman itu bermuara pada lahirnya Grotto, sebuah holistic healing boutique dengan tagline A Home for Harmonious Body and Mind Function, yang dibuka di kawasan Pondok Indah sejak 2020.
“Dengan dua asisten, aku sangat terbantu mengatur waktu. Tapi pada akhirnya aku percaya, Tuhan yang menentukan ritme hidupku,” ucapnya.
Bagi Maya, panggung kini bukan lagi tujuan, melainkan kebutuhan.
“Rasanya seperti ikan kembali ke air,” katanya. Di atas panggung, ia merasa utuh. Cintanya pada harpa, musik, dan panggung, ia beri nilai sepuluh. Mutlak.
Tahun 2025 menghadirkan momen yang ia sebut sebagai miracle. Maya tampil di Esplanade, Singapura, bersama Shanghai Nine Trees Philharmonic Orchestra, dipimpin maestro Muhay Tang, berkolaborasi dengan Singapore Strait Ensemble.
Kesempatan itu datang nyaris tanpa persiapan panjang. Harpist orkestra tersebut mendadak mengundurkan diri. Lewat rekomendasi Melyana Tjahyadikart, tawaran itu sampai ke Maya, dan ia tak menyia-nyiakannya.
Maya menjadi satu-satunya musisi Indonesia yang tampil pada sesi International Premiere, membawakan komposisi “Dreaming of Fengpu” karya Danny Dong.
“Aku sangat bersyukur. Impian bermain dengan international philharmonic orchestra, di Esplanade pula, datang sekaligus. Ini membuktikan bahwa mimpi bisa terwujud di usia berapa pun,” tuturnya haru.
Meski tampil tanpa didampingi anak-anak dan tim manajemennya, Maya melangkah mantap. The show must go on.
Menyambut 2026 dengan Keyakinan
Rutinitas pagi, latihan otot tangan, disiplin melatih determinasi, semua ia lakukan dengan penuh kesadaran.
Bagi Maya, musik bukan sekadar bunyi, melainkan getaran yang menyelaraskan sel-sel tubuh.
“Yang tidak selaras, kita selaraskan kembali dengan musik,” ujarnya.
Menjelang 2026, Maya ingin terus melangkah, di musik dan film, dua dunia yang paling ia cintai.
“Pegang mimpi. Bawa dalam doa. Lakukan yang terbaik. Tuhan akan mengabulkannya.” Tutupnya.
