Cosmo Magazine – Perayaan Festival Songkran 2026 selalu identik dengan keceriaan. Jalanan berubah menjadi ruang bermain penuh tawa, percikan air, dan momen spontan yang terasa begitu hidup. Di Thailand, tradisi ini bukan sekadar festival, tapi juga bentuk selebrasi kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Namun di balik suasana yang begitu meriah, ada sisi lain yang tak kalah penting untuk disadari.
Dalam empat hari perayaan, sejak 10 hingga 13 April 2026, tercatat 154 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Angka ini hadir bersama 755 kasus kecelakaan dan 705 korban luka di berbagai wilayah. Sebuah data yang mengingatkan bahwa di tengah euforia, keselamatan tetap menjadi hal yang tidak boleh terabaikan.
Penyebabnya pun masih serupa dari tahun ke tahun. Kecepatan tinggi menjadi faktor utama, disusul kebiasaan mengemudi dalam kondisi mabuk. Sepeda motor mendominasi lebih dari 70 persen kasus, menjadikannya kendaraan yang paling rentan dalam situasi padat dan dinamis seperti Songkran.
Sebagian besar kecelakaan terjadi di jalan lurus dan jalur lokal, dengan waktu paling rawan berada di sore hari, antara pukul tiga hingga enam. Kelompok usia 20 hingga 39 tahun tercatat sebagai yang paling banyak terdampak, sebuah fakta yang terasa dekat dengan generasi yang aktif, mobile, dan penuh semangat menjalani hidup.
Di sisi lain, Songkran juga merupakan momen pulang ke rumah. Banyak orang melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga, mengunjungi orang tua, atau sekadar menikmati waktu bersama orang-orang terdekat. Mobilitas yang meningkat ini ikut berkontribusi pada tingginya risiko di jalan, termasuk di Bangkok yang mencatat jumlah kematian tertinggi secara keseluruhan.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Thailand memperketat berbagai aturan selama perayaan berlangsung. Mulai dari larangan menyiram orang tanpa persetujuan, pembatasan penggunaan senjata air bertekanan tinggi, hingga sanksi tegas terhadap tindakan yang mengarah pada pelecehan.
Keselamatan berkendara juga menjadi fokus utama. Penggunaan helm diwajibkan, sementara mengemudi dalam kondisi terpengaruh alkohol dikenai hukuman berat. Aktivitas yang melibatkan alkohol di area publik pun dibatasi untuk menjaga keamanan bersama.
Songkran tetaplah perayaan yang indah, tentang kebahagiaan, koneksi, dan momen yang ingin dikenang. Namun di tengah semua itu, ada ruang untuk menjadi lebih sadar, lebih peduli, dan lebih menjaga diri.
Karena merayakan hidup juga berarti memastikan kita bisa kembali pulang dengan utuh, dan mungkin, dengan cerita indah yang tetap aman untuk dikenang.
