Rambut Rontok Tak Selalu Soal Salah Shampoo, Bisa Jadi Sinyal Tubuh Sedang Bermasalah

Ternyata, rambut rontok pada wanita bukan sekadar persoalan kosmetik. Kondisi ini bisa dipicu banyak hal sekaligus, mulai dari hormon, stres, pola hidup, hingga faktor genetik.

Hernowo Anggie
3 Min Read

Cosmo Magazine – Ada momen yang diam-diam bikin banyak perempuan panik, yaitu saat melihat helaian rambut memenuhi sisir, menempel di bantal, atau menyumbat saluran kamar mandi. Awalnya mungkin terasa biasa saja. “Ah, mungkin karena telat keramas,” atau “Kayaknya shampoo baru nggak cocok.”

Tapi ketika jumlah rambut yang rontok makin banyak dari hari ke hari, rasa khawatir mulai muncul.

Ternyata, rambut rontok pada wanita bukan sekadar persoalan kosmetik. Kondisi ini bisa dipicu banyak hal sekaligus, mulai dari hormon, stres, pola hidup, hingga faktor genetik.

Dokter kulit sekaligus ahli kerontokan rambut, Michelle Green, menjelaskan bahwa kerontokan rambut pada perempuan umumnya bersifat multifaktorial alias dipengaruhi berbagai faktor dalam tubuh secara bersamaan.

“Pertumbuhan rambut berlangsung lambat dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menunjukkan perubahan,” jelasnya dalam salah satu pernyataannya.

Salah satu penyebab paling umum adalah perubahan hormon. Ketidakseimbangan hormon androgen dan DHT dapat membuat folikel rambut mengecil sehingga rambut menjadi lebih tipis dan mudah rontok. Di sisi lain, penurunan hormon estrogen juga dapat memengaruhi kesehatan rambut, terutama setelah melahirkan, memasuki menopause, atau pada perempuan dengan PCOS.

Dan ya, stres juga punya andil besar. Tubuh perempuan itu rumit, sayang. Kadang rambut bukan benar-benar “masalah rambut”, tapi alarm bahwa tubuh sedang kelelahan.

Kabar baiknya, kini ada cukup banyak pilihan perawatan yang bisa membantu mengatasi kerontokan. Mulai dari penggunaan minoxidil yang membantu mempertahankan fase pertumbuhan rambut, spironolactone untuk mengontrol hormon androgen, hingga terapi PRP (Platelet-Rich Plasma) yang sedang populer di berbagai klinik kecantikan.

Terapi PRP sendiri dilakukan dengan menyuntikkan plasma darah pasien ke kulit kepala untuk merangsang pertumbuhan rambut baru dan memperkuat akar rambut. Biasanya dibutuhkan beberapa sesi agar hasil mulai terlihat.

Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua rambut rontok adalah tanda bahaya. Kehilangan sekitar 50–100 helai rambut per hari masih dianggap normal sebagai bagian dari siklus alami pertumbuhan rambut.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika rambut mulai terlihat menipis drastis, volume rambut berkurang signifikan, atau kerontokan terasa semakin tidak terkendali.

Karena pada akhirnya, rambut sehat bukan cuma soal tampil cantik. Kadang itu tentang tubuh yang sedang baik-baik saja. Dan perempuan sering lupa memeriksa dirinya sendiri sampai tubuh mulai “berbicara” lewat hal-hal kecil seperti rambut yang perlahan jatuh satu per satu.

Share This Article
Tidak ada komentar