Cosmo Magazine – Hari Preeklampsia Sedunia akan kembali diperingati pada 22 Mei. Hari ini bukan sekadar pengingat biasa, tapi juga alarm penting bahwa masih banyak ibu hamil yang kehilangan nyawa akibat kondisi bernama preeklamsia, komplikasi kehamilan yang sering datang diam-diam, lalu menyerang seringkali tanpa alarm.
Di Indonesia sendiri, preeklamsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu hamil. Dan sedihnya, banyak kasus terlambat terdeteksi karena gejalanya dianggap “cuma capek hamil biasa”.
Apa Itu Preeklamsia?
Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang biasanya muncul setelah usia kandungan 20 minggu. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urine akibat gangguan organ tubuh, terutama ginjal.
Masalahnya, preeklamsia bukan cuma soal tensi naik. Kondisi ini bisa merusak organ ibu, menghambat pertumbuhan janin, memicu kelahiran prematur, bahkan menyebabkan kematian ibu dan bayi bila tidak ditangani dengan cepat.
Gejala yang sering muncul antara lain:
- Sakit kepala berat
- Pandangan kabur
- Bengkak berlebihan di wajah dan tangan
- Nyeri ulu hati
- Sesak napas
- Berat badan naik mendadak
- Tekanan darah tinggi
Seramnya, beberapa ibu bahkan hampir tidak merasakan gejala apa pun. Itu kenapa kontrol rutin kehamilan itu penting banget. Jangan sampai tubuh sudah teriak SOS tapi dianggap cuma “masuk angin ibu hamil”.
Fakta Sedih Tentang Preeklamsia di Indonesia
Indonesia masih menghadapi angka kematian ibu yang tinggi dibanding banyak negara Asia Tenggara. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup.
Data Kementerian Kesehatan yang dirangkum Katadata juga menunjukkan ada 4.150 kematian ibu di Indonesia sepanjang 2024. Salah satu penyebab terbesar adalah hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia, dengan hampir 1.000 kasus.
Bahkan di beberapa daerah, preeklamsia menjadi penyebab dominan kematian ibu hamil bersama perdarahan.
Karena itulah pemerintah mulai memperkuat deteksi dini preeklamsia dengan teknologi dan pemeriksaan lebih modern di fasilitas kesehatan.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Risiko preeklamsia lebih tinggi pada ibu yang:
- Hamil di usia di bawah 20 atau di atas 40 tahun
- Memiliki hipertensi atau diabetes
- Obesitas
- Hamil anak pertama
- Mengandung bayi kembar
- Punya riwayat preeklamsia sebelumnya
- Memiliki gangguan ginjal atau penyakit autoimun
Apakah Preeklamsia Bisa Dicegah?
Belum ada cara yang benar-benar bisa menjamin preeklamsia tidak terjadi. Tapi risiko bisa ditekan dengan:
- Rutin kontrol kehamilan
- Menjaga tekanan darah dan gula darah
- Mengurangi makanan tinggi garam
- Menjaga berat badan ideal
- Tidur cukup dan mengurangi stres
- Tidak merokok atau minum alkohol
- Mengonsumsi makanan bergizi
- Minum suplemen sesuai anjuran dokter, termasuk kalsium bila diperlukan
Kalau Sudah Kena, Bisa Sembuh?
Preeklamsia bisa ditangani, terutama jika terdeteksi lebih awal. Dokter biasanya akan memantau tekanan darah, kondisi janin, dan memberi obat untuk mencegah komplikasi.
Pada kasus tertentu, ibu perlu dirawat di rumah sakit agar kondisi lebih terpantau. Bila kondisi memburuk, persalinan kadang menjadi jalan terbaik untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Kabar baiknya, banyak ibu dengan preeklamsia tetap bisa melahirkan dengan selamat dan sehat jika mendapat penanganan cepat dan rutin kontrol.
Karena itu, Hari Preeklamsia Sedunia bukan cuma soal kampanye kesehatan. Ini pengingat bahwa satu pemeriksaan rutin bisa menyelamatkan dua nyawa sekaligus.
