CosmoMagazine – Teknologi AI menghidupkan kembali legenda Pajang-Jipang sepenuhnya dengan menghadirkan serial Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore.
Cerita kolosal yang pernah menjadi tontonan wajib keluarga Indonesia kini kembali dan lahir dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
Studio produksi kreatif Kampanye AI resmi meluncurkan series kolosal pertama di Indonesia yang diproduksi 100 persen menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Sebanyak 57 episode kisah Jaka Tingkir melawan Arya Penangsang dapat disaksikan mulai hari ini di platform OTT Dynasty Shorts (tersedia di Google Play dan App Store) serta melalui situs resmi jakatingkir.id
Peluncuran ditandai dengan penayangan perdana di Hades VIP, Jakarta, di hadapan media, insan kreatif, dan pelaku industri hiburan nasional.
“Generasi 90-an tumbuh dengan cerita Jaka Tingkir di layar kaca. Kami ingin generasi itu dan anak-anak mereka merasakan kembali kisah yang sama, tapi dengan pengalaman visual yang sama sekali baru. Ini bukan remake, ini cara baru bercerita,” kata Choky Andriano, CEO Kampanye AI.
Menurut Andi Sultan yang juga CEO Kampanye AI, mengatakan dalam series tersebut tidak ada lokasi syuting, tidak ada set kerajaan yang dibangun, tidak ada ratusan figuran dan kuda yang disewa.
Seluruh dunia Bengawan Sore dari pendopo Pajang, medan laga di tepi Bengawan, hingga sosok Jaka Tingkir dan Arya Penangsang dihasilkan sepenuhnya oleh AI berdasarkan naskah, arahan sutradara, dan ribuan instruksi visual (prompt) yang dirancang tim kreatif Kampanye AI.
“Nanti setelah series Jaka Tingkir sukses, kita bakal produksi serial selanjutnya Prabu Siliwangi dan Tutur Tinular,” jelas Andi Sultan.
Series ini digarap dengan pendekatan Sinema AI, yakni setiap adegan disutradarai layaknya film layar lebar dengan tata kamera, pencahayaan, koreografi laga silat, hingga kontinuitas karakter yang dijaga ketat di seluruh 57 episode.
Hasilnya adalah tontonan kolosal berskala besar yang secara konvensional membutuhkan anggaran puluhan miliar rupiah dan ratusan kru, kini dikerjakan oleh tim kecil dalam hitungan bulan.
“Kami membuktikan bahwa cerita kolosal Nusantara tidak harus menunggu anggaran besar untuk bisa diproduksi. Dengan AI, sejarah dan legenda kita bisa hidup kembali secepat imajinasi kita,” tambah Choky Andriano
