Ivan Gunawan

Ivan Gunawan Membingkai Batik Madura sebagai Simbol Kemewahan Modern

Hernowo Anggie
4 Min Read
Ivan Gunawan

CosmoMagazine – Di tangan seorang perancang busana, selembar kain dapat menjelma menjadi lebih dari sekadar pakaian. Ia berubah menjadi narasi, identitas, bahkan karya seni yang mampu melintasi batas ruang dan zaman. Gagasan itulah yang dihadirkan Ivan Gunawan melalui “Nusanova 2.0: Sekar Jagat”, sebuah pameran yang memperlihatkan bagaimana wastra Nusantara menemukan bentuk baru dalam lanskap fashion modern.

Alih-alih hanya menampilkan koleksi di atas runway, Ivan memilih menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan reflektif. Setiap ruang dalam pameran menjadi perjalanan visual yang mengajak pengunjung memahami proses kreatif, mulai dari inspirasi motif, pemilihan material, hingga bagaimana sehelai batik diolah menjadi karya couture yang sarat makna.

Sorotan utama pameran ini adalah batik Sekar Jagat dari Pamekasan, Madura. Motif yang dikenal kaya warna dengan komposisi visual yang dinamis tersebut diterjemahkan ke dalam siluet modern berkarakter tegas namun tetap feminin dan elegan. Perpaduan antara kekayaan tradisi dan estetika kontemporer membuat setiap rancangan terasa relevan bagi generasi masa kini, tanpa kehilangan akar budayanya.

Di balik kemewahan setiap koleksi, tersimpan sebuah pesan yang sederhana namun kuat: warisan budaya hanya akan tetap hidup ketika terus diberi ruang untuk berkembang.

Bagi Ivan Gunawan, fashion memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengikuti tren. Ia percaya bahwa busana mampu menjadi medium edukasi sekaligus jembatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

“Saya ingin menunjukkan bahwa fashion juga memiliki peran penting dalam pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, pameran ini saya buka untuk masyarakat secara gratis, sehingga siapa pun dapat datang, melihat, belajar, dan menemukan inspirasi dari karya-karya yang ada,” ungkap Ivan Gunawan.

Keputusan membuka pameran secara gratis memperlihatkan komitmennya untuk menjadikan fashion sebagai ruang yang inklusif. Seni tidak lagi terasa eksklusif bagi kalangan tertentu, melainkan menjadi pengalaman yang dapat dinikmati oleh siapa saja.

Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Menurutnya, kreativitas para desainer memiliki posisi strategis dalam memperkuat hilirisasi budaya Indonesia sehingga mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperluas pengaruh budaya Nusantara di panggung internasional.

“Budaya berada di hulu, lalu ekonomi kreatif dan pariwisata berada di hilir. Kita perlu melakukan hilirisasi budaya kita, salah satunya melalui tangan-tangan para perancang busana. Para perancang busana bisa membawa kain tradisional kita, termasuk batik, ke tengah-tengah peradaban dunia,” ujar Fadli Zon.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa batik hari ini telah bergerak melampaui fungsi tradisionalnya. Ia bukan lagi sekadar busana untuk upacara atau perayaan, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari industri kreatif global yang memiliki nilai artistik, ekonomi, sekaligus diplomasi budaya.

Melalui “Nusanova 2.0: Sekar Jagat”, Ivan Gunawan memperlihatkan bahwa kemewahan tidak selalu lahir dari material yang asing. Justru dari kekayaan lokal, Indonesia memiliki sumber inspirasi yang tak terbatas untuk terus menciptakan karya-karya berkelas dunia.

Di tengah derasnya arus globalisasi, pameran ini menjadi pengingat bahwa masa depan fashion Indonesia tidak harus meninggalkan tradisi. Sebaliknya, masa depan itu justru dapat dibangun dari motif-motif yang telah diwariskan selama berabad-abad, kemudian diterjemahkan dengan bahasa desain yang segar, modern, dan mampu berbicara kepada audiens dunia.

Karena pada akhirnya, wastra Nusantara bukan hanya tentang apa yang dikenakan, melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa menceritakan dirinya melalui warna, tekstur, dan setiap helai benang yang dirajut dengan penuh kebanggaan.

Share This Article
Tidak ada komentar