Cosmo Magazine – Kabar mengejutkan datang dari industri ritel fesyen. Brand asal Spanyol, Pull & Bear, resmi mengumumkan akan menutup seluruh toko fisiknya di Singapura pada 22 Februari 2026. Hingga saat ini, alasan di balik keputusan tersebut belum dijelaskan secara rinci.
Dalam pengumuman yang ditampilkan di situs resminya, Pull & Bear menyampaikan bahwa pelanggan masih dapat melakukan pengembalian barang, baik pembelian online maupun offline, melalui gerai Zara di VivoCity setelah tanggal penutupan.
Namun, belum ada kepastian apakah operasional toko online Pull & Bear di Singapura akan tetap berjalan.
Pull & Bear merupakan bagian dari grup ritel global Inditex, yang juga menaungi sejumlah label populer seperti Zara, Bershka, Massimo Dutti, dan Stradivarius.
Penutupan ini terjadi di tengah langkah strategis Inditex yang dalam beberapa tahun terakhir memangkas ratusan gerai fisik di berbagai negara sebagai bagian dari penguatan posisi keuangan dan percepatan transformasi digital.
Fenomena ini bukan hanya dialami sektor fast fashion. Grup barang mewah asal Prancis, Kering, yang membawahi Gucci, Saint Laurent, dan Balenciaga, juga tengah melakukan penyesuaian besar dengan menutup ratusan toko secara global demi efisiensi dan reposisi bisnis.
Langkah Pull & Bear meninggalkan Singapura menjadi cerminan perubahan lanskap industri fesyen global.
Di tengah pergeseran perilaku belanja konsumen yang semakin digital, banyak brand memilih merampingkan operasional fisik dan memaksimalkan strategi daring.
Bagi konsumen, penutupan ini mungkin terasa sebagai akhir dari satu era. Namun bagi industri, ini adalah bagian dari babak baru yang menuntut adaptasi cepat, efisiensi, dan inovasi berkelanjutan.
