Teman Tapi Intim / Friend with Benefits

Teman Tapi Mesra! Fenomena Friend with Benefits yang Bikin Banyak Orang Ketagihan

Karena bagaimanapun juga, ketika persahabatan berubah menjadi sesuatu yang lebih intim, batas antara kesenangan dan perasaan sering kali menjadi sangat tipis.

Hernowo Anggie
4 Min Read
Teman Tapi Intim / Friend with Benefits

Cosmo Magazine – Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, cara orang menjalin hubungan juga ikut berubah. Jika dulu hubungan identik dengan pacaran dan komitmen, kini banyak orang mulai mengenal bentuk relasi yang lebih fleksibel, salah satunya Friends With Benefits atau yang dikenal dengan istilah FWB.

Istilah ini mungkin terdengar sedikit nakal, bahkan provokatif. Namun di balik kesannya yang santai, FWB sebenarnya menggambarkan hubungan yang cukup kompleks, lebih tepatnya dua orang yang berteman, tetapi juga berbagi keintiman fisik tanpa label sebagai pasangan.

Bagi sebagian orang, konsep ini terasa seperti “zona nyaman” di antara persahabatan dan hubungan romantis. Ada kedekatan, ada chemistry, bahkan ada gairah, tetapi tanpa tekanan untuk menjalani hubungan serius.

Tidak heran jika fenomena ini semakin sering dibicarakan. Media sosial, film, hingga podcast hubungan membuat istilah FWB terasa semakin familiar bagi generasi muda, terutama di kota-kota besar.

Sederhananya, hubungan ini terjadi ketika dua orang yang sudah memiliki kedekatan sebagai teman memutuskan untuk membawa hubungan mereka ke level yang lebih intim. Mereka tetap berteman, tetap berbagi cerita, tetapi juga berbagi momen yang biasanya hanya terjadi dalam hubungan romantis.

Menariknya, meski terlihat seperti tren modern, relasi tanpa komitmen sebenarnya bukan hal baru. Dalam sejarah hubungan manusia, selalu ada bentuk hubungan kasual yang berada di area abu-abu antara persahabatan dan romansa.

Bedanya, dulu hubungan seperti ini jarang dibicarakan secara terbuka. Sementara kini, generasi modern lebih jujur dalam mendiskusikan berbagai bentuk relasi, termasuk yang tidak mengikuti pola hubungan tradisional.

 

Para ahli menilai, hubungan FWB tidak selalu sesederhana kelihatannya. Relasi ini sering berada di antara dua dunia, yaitu persahabatan yang hangat dan keintiman yang penuh emosi.

Psikolog dan peneliti seksualitas dari Kinsey Institute, Justin J. Lehmiller, menjelaskan bahwa dinamika hubungan ini memang berbeda dari hubungan romantis biasa.

“Hubungan friends with benefits pada dasarnya memadukan dua hal sekaligus, yaitu kedekatan sebagai teman dan hubungan seksual. Kombinasi ini membuat dinamika relasinya menjadi unik dibanding hubungan romantis biasa,” tulis Justin J. Lehmiller dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Sex Research pada 2014.

Karena memadukan dua jenis kedekatan sekaligus, emosi dalam hubungan ini sering kali tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Awalnya mungkin terasa santai dan menyenangkan, tetapi tidak jarang salah satu pihak mulai merasakan sesuatu yang lebih.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa laki-laki dan perempuan sering memiliki motivasi yang berbeda ketika memasuki hubungan seperti ini. Laki-laki cenderung melihatnya sebagai hubungan kasual, sementara perempuan lebih sering merasakan adanya kedekatan emosional di baliknya.

Perbedaan harapan inilah yang kadang memicu drama. Ketika salah satu pihak mulai berharap hubungan berkembang menjadi lebih serius, sementara yang lain tetap ingin mempertahankannya sebagai hubungan santai tanpa komitmen.

Karena itu, para ahli menekankan pentingnya komunikasi yang jujur sejak awal. Tanpa batasan yang jelas, hubungan FWB bisa dengan mudah berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi hubungan yang membingungkan.

Karena bagaimanapun juga, ketika persahabatan berubah menjadi sesuatu yang lebih intim, batas antara kesenangan dan perasaan sering kali menjadi sangat tipis.

Share This Article
Tidak ada komentar